Akio Morita, Pendiri Sony

The irrepressible co-founder of Sony built the company into a global power by combining clever products, innovative design, and potent brand marketing. A stroke disabled Morita in 1993. His duties shifted to Norio Ohga, and then to Nobuyuki Idei, whose tenure is better remembered for failed restructurings than brilliant product launches. Morita might not have done any better. He barely had a chance to glimpse the wave of globalization that ultimately crushed Idei. Once rivals such as Samsung, Nokia, and Microsoft hit their stride in the consumer electronics markets where Sony shined, even Morita's energy and talent might not have been enough to assure clear sailing.

Akio Morita, salah seorang pendiri Sony

 

Lahir

Nagoya, Aichi, Jepang, 26 Januari 1921

Meninggal

Tokyo, Jepang, 3 Oktober 1999 (umur 78 tahun)

Kebangsaan

Jepang

 

Sony identik dengan produk elektronik terkemuka. Produknya yang inovatif dan berkualitas terus membanjiri pasar dunia. Akio Morita dan Masaru Ibuka, para pendiri Sony, membuat Sony menjadi sebuah perusahaan global di tengah dunia yang kehilangan sempadan.

Akio Morita adalah seorang energik dan gemar berolahraga. Pada usia 72 tahun dia masih bermain tenis sekali setiap minggu. Dia bahkan masih mampun menantang siapa saja untuk bermain tenis, termasuk para atlet. Energi Morita bukan hanya dalam soal fisik. Ia juga punya visi yang jauh. Sudah lama dia mengamati bahwa dunia yang semakin “menyempit” akan melahirkan peluang-peluang besar bagi perusahaan yang mampu berpikir melampaui batas fisik dan psikologis. Dia lantas menerapkan strategi itu dengan cara mengoptimalkan merek Sony yang kuat untuk menembus pasar, khususnya AS. Sebagai hasil, misalnya, Sony menurut survei pada 2000 adalah merek nomor satu di mata para konsumen Amerika, di atas Coca Cola dan General Electric.

Energi Morita yang luar biasa dapat dilihat dari jadwalnya selama masa dua bulan sebelum dia terkena stroke. Dia bepergian dari markasnya di Tokyo ke New Jersey, Washington, Chicago, San Francisco, Los Angeles, San Antonio, Dallas, Inggris, Barcelona, dan Paris. Dia bertemu dengan Ratu Elizabeth II, bos General Electric Jack Welch, tokoh Perancis Jacques Chirac, para politisi, dan rekan-rekan birokrat dan mitra bisnis. Dia mengunjungi dua konser dan menonton sebuah film; melakukan emapt kali perjalanan di Jepang; muncul di delapan undangan resepsi; main sembilan putaran golf; menjadi tamu kehormatan dalam suatu pesta perkawinan; dan bekerja seperti biasa selama 17 hari di kantor pusat Sony. Sedemikian padatnya, jadwal Morita bahkan telah ditetapkan sejak setahun sebelumnya. Berbeda dengan banyak eksekutif yang lain, Morita selalu ada di tengah-tengah gelanggang bisnis.

Akio Morita memang berasal dari keluarga bisnis. Ia telah dipersiapkan menjadi ahli waris sebuah keluarga bisnis yang telah berpengalaman 14 generasi: sebuah perusahaan pembuat sake ternama di Nagoya. Namun dengan semangat wirausaha tulen, Morita meninggalkan kehidupan nyaman dan hak-hak istimewa untuk melakukan sebuah langkah awal yang tidak pasti. Ia mendirikan Tokyo Telecommunications Engineering, Inc., saat Jepang baru saja bangkit dari puing-puing peperangan.

Konsep pemasaran Morita bertumpu pada identifikasi merek: nama atau merek dengan seketika akan mengkomunikasikan produk berkualitas. Konsep pemasaran semacam ini digunakan secara luas oleh perusahaan-perusahaan masa kini. Tetapi pada masa itu sebagian besar perusahaan di Jepang masih menghasilkan produk dengan merek orang lain. Pentax, contohnya membuat produk untuk Honeywell, Ricoh untuk Savin, dan Sanyo untuk Sears.

Pelengkap visi Morita dalam hal identitas merek adalah bakat yang dimiliki kawannya sesama pendiri, Masaru Ibuka, yang bertumpu pada kekuatan rekayasa dan desain produk Sony. Kombinasi ini terbukti berjalan dengan baik. Keduanya selalu berusaha menemukan teknologi dan menghasilkan kualitas terbaik bagi konsumen. Salah satu produk pertama Sony adalah radio transistor, diproduksi pada 1955. Meskipun transistor dikembangkan oleh Bell Labs dan dibuat oleh Western Electric, Sony-lah yang pertama kali menggunakannya untuk sebuah radio saku kecil pada 1957.

Sukses radio transistor mengantar Sony pada produk-produk transistor yang lain, seperti teve 8 inci dan perekam pita video. Pencapaian teknologi Sony dalam desain produk, produksi, dan pemasaran telah berperan mengubah citra “Made in Japan” dari barang-barang imitasi murahan menjadi barang-barang berkualitas tinggi. Menurut Morita sendiri, mereka membuat Sony sebagai “Cadillac barang-barang elektronik”.

Penciptaan nama Sony memperlihatkan intuisi dan determinasi Morita untuk berkomunikasi secara global. Dia menginginkan sebuah nama yang dikenali di mana pun: kreatif, beraksara Roman, pendek dan menarik. Morita dan Ibuka membolak-balik kamus dan menemukan kata sonus, yang dalam bahasa Latin berarti suara. Kata sonny sendiri telah menjadi bahasa populer di Amerika pada waktu itu. Maka muncullah nama Sony.

Globalisasi Sony dimulai di AS. Morita memindahkan seluruh keluarganya pada 1963 untuk mengenal Amerika: pasar, kebiasaan, dan aturan-aturannya, agar peluang sukses perusahannya lebih besar. Keputusan itu memang brilian. Di AS Morita tinggal di sebuah apartemen besar di Fifth Avenue, Manhattan. Dia membangun jaringan solid dan bernilai dengan cara sosialisasi secara kontinyu dan melakukan pesta setiap minggu, kebiasannya yang tetap dipertahankannya sepanjang karirnya.

Morita dikenal sebagai seorang yang gila kerja dan juga “manusia bermain”. Dia mengikuti perkembangan seni dan musik, serta fanatik berolahraga. Pada 1960an dia menekuni selancar angin dan menyelam, juga main ski agar tetap bisa berolahraga pada musim dingin. Dia senang berski air dan bahkan menciptakan sebuah mikrofon tahan air yang dihubungkan dengan kabel ke kapal sehingga dia bisa memberi instruksi kepada istrinya, Yoshiko. Dia sangat bangga dengan penemuan ini. Hanya karena dia memiliki waktu-waktu yang menyenangkan, dia bisa menemukan dan menyempurnakan produk-produknya.

Walkman adalah sebuah penemuan Sony yang lain. Morita memperhatikan anak-anak dan teman-temannya yang mendengarkan musik dari pagi sampai malam. Dia menyaksikan orang menyetel musik dalam mobil dan membawa stereo besar ke pantai dan taman. Departemen Rekayasa Sony sebelumnya telah menolak konsep tape player tanpa fungsi perekam, tetapi Morita tak bisa ditolak. Dia memaksakan sebuah produk yang mirip tape mobil berkualitas tinggi, mudah dibawa, dan memungkinkan penggunanya untuk mendengarkan sambil mengerjakan sesuatu–itulah yang disebut Walkman.

Sony Amerika mengubah nama produk ini menjadi Soundabout untuk AS, Freestyle untuk Swedia, dan Stowaway untuk Inggris. Morita sangsi untuk menggunakan nama berbeda untuk setiap negara, dan ketika penjualannya tidak sesuai harapan, dia mengganti namanya menjadi Sony Walkman. Setelah itu Walkman menjadi mendunia dan kini tampil dalam kamus berbagai bahasa.

Ternyata, orang yang telah membuat Sony menjadi global ini memiliki sisi nasionalis yang kadang-kadang bertentangan atau melengkapi. Itu misalnya dapat dirasakan kalu kita membaca buku larisnya Made in Japan. Tetapi Morita juga mengadopsi lebih banyak titik pandang internasional, dan pada 1960an mulai membicarakan isu mengenai usaha untuk meningkatkan perdagangan bebas dengan menurunkan tarif dan meretas pelbagai hambatan lain. Selama berpuluh-puluh tahun para pengusaha Jepang enggan membicarakan isu ini. Morita secara vokal mewakili komunitas bisnis Jepang, sebuah negara yang pada 1970an telah menjadi negara nomor dua di dunia dalam soal ekonomi dan tak mungkin bisa dikesampingkan oleh para pelaku ekonomi yang lain.

Iklan

Ditandai:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: