Nelson Mandela, Sang Pemaaf Peruntuh Apartheid

Nelson_Mandela-2008_(edit)

Nelson Mandela (2008)

Nama

Nelson Rolihlahla Mandela

Lahir

Umtata, 18 Juli 1918

Dia memberi contoh tentang integritas moral dalam suat perjuangan. Puluhan tahun berada dalam tahanan rezim yang menerapkan kebijakan pemisahan warna kulit, ia kemudian bebas dan terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di negerinya. Dengan rasa maaf, ia mampu menyatukan masyarakat Afrika Selatan yang berbeda warna kulit itu.

Rolihlahla Mandela lahir di Umtata, Afrika Selatan, anak dari seorang kepala suku. Nama Rolihlahla kadang diartikan sebagai “pembuat onar”, sementara nama Nelson baru kemudian ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya yang membayangkan suat kemegahan Kerajaan pada nama itu. Masa kecil Mandela cukup damai, ia banyak menghabiskan waktu menggembala atau melakukan kesibukan pedesaan yang lain. Ketika ayahnya meninggal, ia diurus oleh seorang sanak keluarganya yang menjadi bupati.

Keterlibatannya dalam politik dimulai saat ia keluar sekolah College of Fort Hare. Dia mulai melibatkan diri dalam aksi protes mahasiswa menentang tatanan politik yang menempatkan orang kulit putih lebih tinggi dari orang kulit hitam. Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang harus dia tempuh dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas orang kulit hitam di Afrika Selatan.

Mandela kemudian magang pada sebuah biro hukum. Kariernya dalam bidang hukum berlanjut hingga ia bisa menjadi pengacara yang cukup sukses. Namun, selama bertahun-tahun kemudian ia menyaksikan bagaimana politik apartheid sangat tidak manusiawi. Hanya karena berkulit hitam orang bisa kehilangan status sebagai manusia. Mandela meneguhkan hatinya untuk melawan semua ini. Ia rela meninggalkan kehidupan desa yang damai, bahkan kariernya sebagai pengacara, untuk memasuki masa depan yang penuh pengorbanan dan penderitaan.

Harapan Mandela untuk berhasil sangatlah kecil karena selama berabad-abad pemerintah kolonial telah mengonsentrasikan semua kekuasaan politik dan militer, akses pendidikan, dan sebagian besar kekayaan di tangan minoritas kulit putih. Kondisi yang mendukung keberhasilan revolusi hampir tidak ada sama sekali. Rakyat banyak telah dijinakkan dalam kepatuhan, wilayah geografis yang luas merintangi komunikasi dan mobilitas, sementara perang antar ras bukan suatu pilihan yang realistis bahkan bisa menghebohkan.

Dalam situasi semacam itu Mandela memilih jalan tanpa kekerasan sebagai strategi. Dia bergabung dengan Liga Kaum Muda, organisasi pemuda Kongres Nasional Afrika (ANC). Ia mengambil bagian dalam program perlawanan pasif untuk menentang aturan agar orang kulit hitam membawa pas jalan dan membuat mereka tetap dalam posisi budak terus menerus.

Pemerintah kemudian menggelar peradilan besar-besaran terhadap para “pengkhianat”, Mandela termasuk di antaranya. Namun pada 1961 semua itu berakhir dengan pembebasan ke-156 tertuduh. Tetapi kemudian Afrika Selatan “bergolak” karena pembantaian para demonstran kulit hitam di Sharpeville pada Maret 1960. Namun pemerintah tetap konsisten menghantam oposisi: sebagian besar gerakan pembebasan, termasuk ANC, dilarang. Mandela yang telah meraih reputasi sebagai pemimpin orang kulit hitam, berjuang di bawah tanah selama lebih dari setahun dan bepergian ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi ANC.

Ketika Mandela kembali, dia ditahan dan dikirimkan ke penjara Robben Island selama lima tahun. Namun ia tetap kukuh. “Sepanjang hidup saya, saya mendedikasikan diri pada perjuangan rakyat Afrika. Saya telah berjuang menentang dominasi kulit putih, dan telah berjuang melawan dominasi kulit hitam. Saya mengharapkan demokrasi dan masyarakat bebas yang ideal di mana setiap orang hidup bersama dalam harmoni dan mendapat kesempatan yang sama. Hal itulah yang ingin saya hidupkan dan saya capai. Jika perlu, untuk itu saya siap mati.”

Mandela memikul seluruh tanggung jawab perjuangannya. Di penjara ia menerapkan sistem mendidik diri sendiri, sehingga penjara ini dijuluki “Universitas Pulau”. Saat para napi meninggalkan sel mereka di pagi hari untuk bekerja keras, setiap tim mengangkat seorang instruktur–dalam bidang sejarah, ekonomi, politik, filsafat, atau bidang apa pun. Jam-jam istirahat yang sebelumnya menjemukan diisi dengan aktivitas budaya, dan Mandela mengingat dengan bangga aktingnya sebagai Creon dalam drama Sophocles, Antigone.

Lebih dari dua dekade berada dalam penjara, Mandela menjadi simbol perlawanan terhadap apartheid, dan para pemimpin dunia terus meminta pemerintah Afrika Selatan membebaskannya. Sebagai tanggapan atas tekanan dari dalam dan luar negeri, Presiden F.W. de Klerk pada 2 Februari 1990 mencabut pemberangusan ANC dan mengumumkan pembebasan segera Mandela.

Ketika pemilihan umum demokratis berlangsung, Mandela terpilih sebagai presiden Afrika Selatan. Sebagai presiden, pelbagai hal berat harus Mandela hadapi, namun yang terberat adalah menghilangkan rasa takut minoritas kulit putih. Namun Mandela terbukti mampu mengatasi soal ini karena integritas moral dan fokus perjuangannya untuk menyatukan satu negara dengan dua warna kulit yang berbeda itu. Mandela membuktikan kembali integritas kepemimpinannya dengan menolak untuk dipilih kembali pada pemilu 1999.

 

Istri

  1. Evelyn Ntoko Mase (1944-1957)
  2. Winnie Madikizela (1957-1996)
  3. Graca Machel-Mandela (1998-sekarang)

Pendidikan

  1. College of Fort Hare
  2. University of South Africa
  3. University of Witwatersrand, Johannesburg

Riwayat Singkat

  • Bergabung dengan Kongres Nasional Afrika yang anti-apartheid (1962-1990).
  • Dipenjara karena menganjurkan sabotase (1962-1990).
  • Menjadi Presiden ANC (1991).
  • Terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan (1994).
  • Mengakhiri masa jabatan sebagai Presiden Afrika Selatan (1999).

Penghargaan

Mendapat Hadiah Nobel Perdamaian bersama F.W. de Klerk untuk jasanya menghentikan sistem apartheid (1993).

Buku

Long Walk to Freedom (1994)

Iklan

Ditandai:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: