Rupiah Tak Berdaya di Pasar Wutung Papua

Pria 37 tahun itu tak sedang bersantai.Tangan kanannya merogoh kotak bawaan yang berisi penuh barang jualan.Tangan kirinya melayani uang dari para pelanggan. Para pembeli berebut es krim jualannya. “Kina or rupiah?”tanya bapak seorang putri ini kepada para pembeli, awal Agustus lalu. Rupiah, kita tahu, adalah mata uang Indonesia. Tapi kina? Suyono, pria kelahiran Jawa Timur itu, sudah hampir tiga tahun berjualan es krim di pintu masuk perbatasan Indonesia-Papua Nugini.
Gerbang yang menghubungkan dua negara ini masuk wilayah Skow-Wutung Muara Tami, Jayapura, Papua, yang jaraknya sekitar 80 kilometer ke arah timur ibu kota Papua, Jayapura. Motor bebek berwarna hitam milik Suyono diparkir menyentuh pagar teritori dua negara. Garis batas Indonesia-Papua Nugini memang tak seperti perbatasan Korea Utara-Korea Selatan, yang dibentengi ketat dengan pagar kawat berduri setinggi dua meter, dengan zona demiliterisasi sejauh 2 kilometer. Di batas darat Indonesia- Papua Nugini ini, pagar hanya setinggi dada orang dewasa, tanpa kawat berduri di atasnya. Panjangnya 817 kilometer, dari ujung utara sampai selatan Papua, dengan 114 pos penjagaan.
Tak ada sesuatu yang menegangkan di pintu perbatasan ini. Di pintu masuk ada pilar yang menjulang seperti patung ucapan selamat datang. Di tengah, di antara dua pos yang dijaga otoritas negara masingmasing, ada 20 meter ruang terbuka yang dikenal sebagai daerah tak bertuan (no-man’s land). “Three kinas for one bar,” kata Suyono kepada pelanggan yang sebagian besar dari Kota Panimo itu. Panimo adalah salah kota di Papua Nugini yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari tapal batas. Kina adalah mata uang negara tetangga itu.
Dengan pelanggan yang sebagian besar orang Papua Nugini, tak aneh jika mata uang yang dipakai adalah kina. Di sini, kurs 1 kina sama dengan Rp 3.000. Dalam situs http://www.convertworld.com, kurs 1 kina setara dengan sekitar Rp 3.800. Dengan kata lain,mata uang negeri tetangga itu lebih kuat daripada rupiah. Ini yang membuat barangbarang produk Indonesia terasa lebih murah bagi mereka. Penduduk negeri seberang pun rajin datang ke pasar perbatasan, termasuk Pasar Wutung.
Lokasi pasar ini tak jauh dari pintu perbatasan. Hanya sekitar 300 meter. Di sini, aneka bahan kebutuhan pokok produksi Indonesia bisa didapatkan. Lagi-lagi, sebagian besar pelanggannya adalah orang Papua Nugini. Menurut Ahmad, pedagang yang ikut merintis pasar di Skow-Wutung, perputaran uang di perbatasan ini memang tak bisa dibilang kecil. Pria berusia 49 tahun yang berdagang sejak 2005 ini mengatakan, omzet keseluruhan pedagang yang menempati 250 kios berkisar Rp 4-6 miliar per bulan. Bahan kebutuhan pokok menjadi komoditas primadona yang diperjualbelikan.
Tapi banyak juga kios yang menjual barang elektronik, baju, mainan anak, keperluan rumah tangga, bahkan hingga cakram digital bajakan.Bagi orang Papua Nugini, harga barang di Pasar Wutung, yang sebenarnya sudah lebih mahal dari harga di Jayapura, terasa lebih murah karena kurs rupiah di bawah kina. Untuk barang serupa yang dijual di negaranya, warga Papua Nugini bisa mendapatkannya dengan harga tiga kali lebih murah di sini.
Nilai tukar di kawasan itu memang bisa berubah setiap hari. Suyono tak tahu siapa yang menetapkan hari ini nilai tukar kina sama dengan Rp 3.000, dan besoknya dengan nilai tukar berbeda.Yang pasti, kata dia, setiap hari mulai berdagang, ia sudah mendapatkan bocoran informasi dari mulut pedagang lain. “Semacam harga kesepakatan,” ujar Suyono, yang omzetnya dalam sehari berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Fluktuasi harga kurs ini merugikan pedagang. Jika ditukarkan di money changer di Papua, harganya jatuh. Kurs ibu kota Papua ini bisa Rp 2.700 atau Rp 2.500 per 1 kina. Artinya, pedagang rugi Rp 250 sampai Rp 300 untuk setiap 1 kina yang ditukar. ”Kami hanya minta pemerintah membangun tempat penukaran uang resmi,”kata Abah, nama akrab Ahmad.
Dalam lawatan yang singkat bersama Bank Indonesia perwakilan Papua di pasar, setidaknya ada tiga kios pedagang yang berperan ganda menjadi kantor penukaran uang tak resmi. Kios Nayak, milik Tahir, adalah salah satunya. Pria 39 tahun ini menerima jasa penukaran uang kina ke rupiah dan sebaliknya.Namun dia mengaku tak menangguk untung dari pertukaran itu. “Tak mungkin saya jual-beli uang, itu tidak boleh dalam keyakinan saya,” kata pria muslim asal Sulawesi ini.
Dia menyebutkan, ada warga Indonesia yang sering ke Papua Nugini untuk bisnis. Uang kina dari para pedagang biasanya dikumpulkan dan ditukar kembali ke rupiah kepada seseorang yang ia tak mau ungkapkan jati dirinya. Ia menyebutnya “si bos”, yang berbisnis kayu atau komoditas lain di Papua Nugini. Soal kurs tukar kina itu menjadi perhatian serius Bank Indonesia. Menurut Kepala Bank Indonesia perwakilan Papua, Leo R. Tandiarrang, kina sebenarnya tak terdaftar dalam mata uang yang biasa menjadi alat tukar perdagangan. Hanya mekanisme pasar gelap yang menentukan nilai tukarnya, dan itu merugikan Indonesia. Dia khawatir ada yang memainkan nilai tukar tersebut untuk kepentingan pribadi.
Tapi, seperti kata Leo, tak mudah mengontrol praktek perdagangan valas di tingkat bawah ini. Bagi otoritas di Indonesia, penertiban terhadap praktek semacam ini melahirkan dilema tersendiri. Jika sikap tegas soal pembatasan penggunaan kina diberlakukan di perbatasan, itu bisa mengganggu stabilitas pasar dan kegiatan ekonomi di wilayah ini. Padahal inilah tempat bagi 200 lebih pedagang Indonesia menggantungkan hidupnya. Maka, yang harus dilakukan, kata Leo,“Kita harus tetap memiliki komitmen untuk menyebar rupiah di sini, tanpa harus mengganggu kegiatan ekonomi mereka.” Solusi lain yang tersedia, kata dia, bank sentral Indonesia melakukan koordinasi dengan koleganya di Papua Nugini untuk menyediakan fasilitas penukaran uang secara resmi.
Upaya memperbaiki keadaan perbatasan tampaknya tak akan lama terwujud. Dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Michael T. Somare di Port Moresby, 12 Maret 2010, kedua kepala pemerintahan sepakat meningkatkan kerja sama pertahanan, keamanan, dan sejumlah sektor vital lain, selain membuka pos perbatasan resmi kedua negara di daerah Skow-Wutung untuk meningkatkan arus lintas batas di dua sisi.
Kita dan negara tetangga di sisi paling timur ini punya hubungan diplomatik yang baik. Indonesia dan Papua Nugini mulai menjalin hubungan konsuler pada 1973, yang kemudian ditingkatkan menjadi hubungan diplomatik setelah Papua Nugini memperoleh kemerdekaan dari Australia pada 16 September 1975. Indonesia juga merupakan negara kedua setelah Australia yang mengakui kemerdekaannya.

Iklan

Ditandai:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: