Arsip Kategori: Tokoh

Wilhelm Röntgen, Penemu Sinar-X

Roentgen2

Nama

Wilhelm Conrad Röntgen

Lahir

Lennep, Jerman, 27 Maret 1845

Wafat

Munich, Jerman10 Februari 1923 (umur 77 tahun)

Kebangsaan

Jerman

Berprestasi biasa-biasa pada masa mudanya, namun Röntgen kemudian menjadi ilmuwan terkemuka. Ahli fisika yang juga pencinta alam ini membuat sejarah ketika dia menyorotkan sinar katode ke tangan istrinya. Penemuan sinar yang kemudian dinamainya sinar-X (atau sinar Röntgen) itu membuatnya meraih Hadiah Nobel Fisika pertama pada 1901.

Wilhelm Conrad Röntgen lahir pada 27 Maret 1845 di Lennep, sebuah provinsi di Jerman, anak satu-satunya seorang pembuat dan pedagang pakaian. Ketika berusia tiga tahun, keluarganya pindah ke Apeldoorn, Belanda. Di sini dia masuk ke Institut Martinus Herman van Doorn, sebuah sekolah berasrama. Dia tidak memperlihatkan bakat khusus, tetapi sangat menyukai alam dan gemar bertualang di tempat terbuka. Pada 1862 dia masuk sekolah teknik di Utrecht, namun dikeluarkan dari sekolah itu karena dituduh membuat karikatur salah seorang gurunya—padahal dia tidak pernah membuat karikatur itu.

Röntgen masuk ke Universitas Utrecht pada 1865 untuk belajar fisika. Prestasinya tidak istimewa, namun Röntgen kemudian bisa masuk jurusan rekayasa mekanik di Politeknik di Zurich karena lulus ujian masuknya. Dia dibimbing oleh dosennya, Clausius, dan juga bekerja di laboratorium Kundt—keduanya punya pengaruh besar bagi perkembangan Röntgen. Pada 1869 dia meraih Ph.D. di Universitas Zurich dan ditunjuk menjadi asisten Kundt. Tahun itu juga bersama Kundt dia berangkat ke Würzburg, dan tiga tahun kemudian ke Strasbourg.

Pada 1874 Röntgen menjadi pengajar di Universitas Strasbourg, pada 1875 menjadi guru besar pada Akademi Pertanian Hohenheim di Wurtemberg. Pada 1876 dia kembali Strasbourg sebagai Guru Besar Fisika, tetapi tiga tahun kemudian menerima tawaran menjadi Ketua Jurusan Fisika di Universitas Giessen.

Setelah menolak pelbagai tawaran mengisi posisi yang sama di Universitas Jena (1886) dan Universitas Utrecht (1888), Röntgen menerima tawaran Universitas Würzburg (1889). Pada 1900 dia menjadi Ketua Jurusan Fisika Universitas Munich, atas permintaan khusus pemerintah Bavaria. Di sini dia menghabiskan sisa umurnya, meskipun pernah ditawari menjadi Presiden Physikalish-Technische Reichsanstalt di Berlin dan Ketua Bidang Fisika Akademi Berlin.

Karya pertama Röntgen dipublikasikan pada 1870, berkaitan dengan panas gas yang spesifik, diikuti dengan paper mengenai daya konduksi panas kristal. Röntgen mempelajari banyak hal dalam fisika, namun namanya terkemuka karena penemuan cahaya yang disebut sinar-X. Pada 1895 dia mempelajari fenomena yang menyertai lintasan arus listrik melalui gas yang bertekanan sangat rendah. Penelitian Röntgen dalam bidang sinar katode ini yang membawanya kepada suat penemuan jenis sinar yang baru.

Pada malam 8 November 1895, dia mendapatkan bahwa tube yang disimpan di tempat tertutup dalam karton tebal hitam, ketika dia bekerja dalam ruangan gelap, plat kertas yang satu sisinya tertutup barium platinocyanide bila disorot cahaya menjadi berpijar bahkan dalam jarak sejauh dua meter dari tube itu. Pada percobaan-percobaan selanjutnya, dia menemukan bahwa objek-objek dengan ketebalan berbeda yang ditempatkan pada cahaya memperlihatkan transparansi yang berbeda-beda ketika direkam dalam plat fotografi.

Ketika dia mendiamkan sebentar tangan istrinya di garis edar cahaya di atas plat fotografi, dia melihat gambar tangan istrinya ketika plat itu dicetak. Gambar bayangan tulang tangan dan cincin yang dikenakan istrinya terlihat dalam gambar Röntgen pertama itu. Dalam percobaan-percobaan lebih jauh, Röntgen melihat bahwa cahaya baru ini dihasilkan oleh sinar katode yang disorotkan pada objek material. Karena sifatnya yang tidak diketahui, dia memberinya nama sinar-X. Baru kemudian, Max von Laue memperlihatkan bahwa sinar itu mempunyai sifat elektromagnetik yang sama dengan sinar lain, namun memiliki tinggi frekuensi getar yang berbeda.

Pelbagai penghargaan diberikan kepada Röntgen atas penemuan ini. Jalan-jalan di beberapa kota dinamai dengan namanya. Dia juga dibanjiri hadiah, medali, gelar doktor kehormatan, dari dalam dan luar negeri. Namun demikian, Röntgen tetap sederhana dan pendiam. Sepanjang hidupnya dia tetap mencintai alam dan kegiatan di luar ruangan. Masa liburannya sering dihabiskan di rumah musim panasnya di Weilheim, di kaki Pegunungan Alpen, Bavaria. Di sana dia menjamu teman-temannya dan sering melakukan ekspedisi ke gunung. Dia adalah pendaki gunung hebat yang lebih dari sekali mengalami situasi berbahaya.

Röntgen orang yang ramah dan penuh sopan santun, selalu bisa mengerti pendapat dan kesulitan orang lain. Dia juga selalu merasa malu untuk mengangkat asisten dan lebih suka bekerja sendirian. Peralatan-peralatan yang dia gunakan sebagian besar dibuat sendiri dengan kecerdasan dan keterampilan eksperimental yang hebat.

Röntgen menikah dengan Anna Bertha Ludwig dari Zurich, yang dia temui di kafe yang dikelola ayahnya. Anna adalah kemenakan penyair Otto Ludwig. Mereka menikah pada 1872 di Apeldoorn, Belanda. Karena tak dikaruniai anak, pada 1887 mereka mengadopsi Josephine Bertha Ludwig (saat itu berusia 6 tahun), anak perempuan satu-satunya dari saudara laki-laki Anna. Röntgen meninggal di Munich pada 10 Februari 1923 karena kanker usus, empat tahun setelah istrinya meninggal.

Iklan

Karl Landsteiner, Penemu Golongan Darah

Karl_Landsteiner_nobel

Nama

Karl Landsteiner

Lahir

Baden bei Wien (near Vienna), Austria, 14 Juni 1868

Meninggal

New York, AS, 24 Juni 1943 (umur 75)

Orangtua

Leopold Landsteiner/Fanny Hess

Istri

Helen Wlasto (menikah 1916)

Penggolongan darah A, B, AB, dan O dikenal sebagai dasar klasifikasi darah manusia hingga saat ini. Penemunya adalah Karl Landsteiner, seorang dokter yang berkecimpung dalam bidang ini sampai akhir hayatnya. Dia dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran 1930.

Karl Landsteiner lahir di Wina, Austria pada 14 Juni 1868. Ayahnya, Leopold Landsteiner, doktor di bidang hukum, adalah jurnalis ternama dan penerbit surat kabar. Ayah Landsteiner meninggal ketika dia berusia enam tahun. Karl dibesarkan oleh ibunya, Fanny Hess, yang sangat dia sayangi. Sejak masih pelajar, Landsteiner sudah melakukan riset biokimia dan pada akhir 1891 memublikasikan sebuah paper mengenai pengaruh diet terhadap komposisi abu darah. Landsteiner belajar kedokteran di Universitas Wina dan lulus pada 1891. Pengetahuan mengenai kimia yang lebih mendalam diperolehnya pada lima tahun berikutnya di Laboratorium Hantzsch di Zurich, lab Emil Fischer di Wurzburg, dan lab E. Bambebger di Munich.

Kembali ke Wina, Landsteiner bekerja di Rumah Sakit Umum Wina. Pada 1896 dia menjadi asisten Max von Gruber di Institut Higiene di Wina. Sejak saat itu dia sudah tertarik pada mekanisme kekebalan dan sifat antibodi. Dari 1898 hingga 1908 dia menjadi asisten di Departemen Anatomi Patologis Universitas di Wina. Pimpinannya, Profesor A. Weichselbaum adalah penemu bakteri penyebab meningitis dan, bersama Fraenckel, menemukan pneumococcus.

Di sini Landsteiner lebih banyak berkecimpung dalam bidang fisiologi daripada anatomi. Hingga 1919, setelah bekerja 20 tahun dalam bidang anatomi patologis, Landsteiner bersama beberapa orang temannya memublikasikan banyak paper mengenai anatomi abnormal dan kekebalan. Dia menemukan fakta-fakta baru tentang kekebalan tubuh dan menemukan faktor kekebalan tubuh.

Landsteiner banyak berjasa bagi anatomi patologis, histologi, dan imunologi. Dalam karya-karyanya dia memperlihatkan observasi dan deskripsi yang cermat, juga pemahaman yang mendalam tentang biologi. Tetapi penemuannya yang sangat terkenal dibuatnya pada 1901, yaitu tentang golongan darah. Karena penemuan ini pula dia dianugerahi Hadiah Nobel untuk Fisiologi atau Kedokteran pada 1930.

Pada 1875, Landois menyatakan bahwa jika manusia diberi transfusi darah hewan, maka darah asing ini akan menggumpal dan pecah dalam pembuluh darah manusia. Pada 1901-1903 Landsteiner menunjukkan bahwa reaksi yang sama akan terjadi juga pada transfusi darah antarmanusia, dapat menyebabkan syok atau reaksi lainnya.

Pernyataannya itu memperoleh sedikit perhatian saja hingga 1909, saat dia mengklasifikasi darah manusia menjadi apa yang kita kenal kini sebagai golongan darah A, B, AB, dan O. Dia juga menunjukkan bahwa transfusi antar golongan darah A atau B tidak menyebabkan kerusakan sel darah baru seperti kalau transfusi terjadi antar golongan darah yang berbeda.

Pada 1919 Landsteiner bertugas di sebuah RS Katolik Roma di The Hague, Belanda, karena kurangnya fasilitas lab di negerinya. Dia kemudian bertugas di Institut Rockefeller untuk Riset Kedokteran di New York. Di sini, bekerjasama dengan Levine dan Wiener, dia membuat penelitian lebih jauh tentang golongan darah. Kelompok ilmuwan ini juga yang merintis penemuan faktor-Rh dalam darah—yang menghubungkan darah manusia dengan darah kera rhesus.

Sampai akhir hayatnya Landsteiner terus meneliti golongan darah dan mengenai aspek kimia antigen, antibodi dan faktor-faktor kekebalan dalam darah. Pada 1939 dia menjadi Profesor Emeritus di Institut Rockefeller, namun tetap bekerja dengan bersemangat. Pada 24 Juni 1943 dia meninggal karena serangan jantung di laboratoriumnya. Dia meninggalkan seorang anak, E. Landsteiner, hasil pernikahannya dengan Helen Wlasto pada 1916.

Nelson Mandela, Sang Pemaaf Peruntuh Apartheid

Nelson_Mandela-2008_(edit)

Nelson Mandela (2008)

Nama

Nelson Rolihlahla Mandela

Lahir

Umtata, 18 Juli 1918

Dia memberi contoh tentang integritas moral dalam suat perjuangan. Puluhan tahun berada dalam tahanan rezim yang menerapkan kebijakan pemisahan warna kulit, ia kemudian bebas dan terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di negerinya. Dengan rasa maaf, ia mampu menyatukan masyarakat Afrika Selatan yang berbeda warna kulit itu.

Rolihlahla Mandela lahir di Umtata, Afrika Selatan, anak dari seorang kepala suku. Nama Rolihlahla kadang diartikan sebagai “pembuat onar”, sementara nama Nelson baru kemudian ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya yang membayangkan suat kemegahan Kerajaan pada nama itu. Masa kecil Mandela cukup damai, ia banyak menghabiskan waktu menggembala atau melakukan kesibukan pedesaan yang lain. Ketika ayahnya meninggal, ia diurus oleh seorang sanak keluarganya yang menjadi bupati.

Keterlibatannya dalam politik dimulai saat ia keluar sekolah College of Fort Hare. Dia mulai melibatkan diri dalam aksi protes mahasiswa menentang tatanan politik yang menempatkan orang kulit putih lebih tinggi dari orang kulit hitam. Keterlibatan inilah yang kemudian menentukan jalan panjang yang harus dia tempuh dalam memperjuangkan persamaan hak bagi mayoritas orang kulit hitam di Afrika Selatan.

Mandela kemudian magang pada sebuah biro hukum. Kariernya dalam bidang hukum berlanjut hingga ia bisa menjadi pengacara yang cukup sukses. Namun, selama bertahun-tahun kemudian ia menyaksikan bagaimana politik apartheid sangat tidak manusiawi. Hanya karena berkulit hitam orang bisa kehilangan status sebagai manusia. Mandela meneguhkan hatinya untuk melawan semua ini. Ia rela meninggalkan kehidupan desa yang damai, bahkan kariernya sebagai pengacara, untuk memasuki masa depan yang penuh pengorbanan dan penderitaan.

Harapan Mandela untuk berhasil sangatlah kecil karena selama berabad-abad pemerintah kolonial telah mengonsentrasikan semua kekuasaan politik dan militer, akses pendidikan, dan sebagian besar kekayaan di tangan minoritas kulit putih. Kondisi yang mendukung keberhasilan revolusi hampir tidak ada sama sekali. Rakyat banyak telah dijinakkan dalam kepatuhan, wilayah geografis yang luas merintangi komunikasi dan mobilitas, sementara perang antar ras bukan suatu pilihan yang realistis bahkan bisa menghebohkan.

Dalam situasi semacam itu Mandela memilih jalan tanpa kekerasan sebagai strategi. Dia bergabung dengan Liga Kaum Muda, organisasi pemuda Kongres Nasional Afrika (ANC). Ia mengambil bagian dalam program perlawanan pasif untuk menentang aturan agar orang kulit hitam membawa pas jalan dan membuat mereka tetap dalam posisi budak terus menerus.

Pemerintah kemudian menggelar peradilan besar-besaran terhadap para “pengkhianat”, Mandela termasuk di antaranya. Namun pada 1961 semua itu berakhir dengan pembebasan ke-156 tertuduh. Tetapi kemudian Afrika Selatan “bergolak” karena pembantaian para demonstran kulit hitam di Sharpeville pada Maret 1960. Namun pemerintah tetap konsisten menghantam oposisi: sebagian besar gerakan pembebasan, termasuk ANC, dilarang. Mandela yang telah meraih reputasi sebagai pemimpin orang kulit hitam, berjuang di bawah tanah selama lebih dari setahun dan bepergian ke luar negeri untuk mencari dukungan bagi ANC.

Ketika Mandela kembali, dia ditahan dan dikirimkan ke penjara Robben Island selama lima tahun. Namun ia tetap kukuh. “Sepanjang hidup saya, saya mendedikasikan diri pada perjuangan rakyat Afrika. Saya telah berjuang menentang dominasi kulit putih, dan telah berjuang melawan dominasi kulit hitam. Saya mengharapkan demokrasi dan masyarakat bebas yang ideal di mana setiap orang hidup bersama dalam harmoni dan mendapat kesempatan yang sama. Hal itulah yang ingin saya hidupkan dan saya capai. Jika perlu, untuk itu saya siap mati.”

Mandela memikul seluruh tanggung jawab perjuangannya. Di penjara ia menerapkan sistem mendidik diri sendiri, sehingga penjara ini dijuluki “Universitas Pulau”. Saat para napi meninggalkan sel mereka di pagi hari untuk bekerja keras, setiap tim mengangkat seorang instruktur–dalam bidang sejarah, ekonomi, politik, filsafat, atau bidang apa pun. Jam-jam istirahat yang sebelumnya menjemukan diisi dengan aktivitas budaya, dan Mandela mengingat dengan bangga aktingnya sebagai Creon dalam drama Sophocles, Antigone.

Lebih dari dua dekade berada dalam penjara, Mandela menjadi simbol perlawanan terhadap apartheid, dan para pemimpin dunia terus meminta pemerintah Afrika Selatan membebaskannya. Sebagai tanggapan atas tekanan dari dalam dan luar negeri, Presiden F.W. de Klerk pada 2 Februari 1990 mencabut pemberangusan ANC dan mengumumkan pembebasan segera Mandela.

Ketika pemilihan umum demokratis berlangsung, Mandela terpilih sebagai presiden Afrika Selatan. Sebagai presiden, pelbagai hal berat harus Mandela hadapi, namun yang terberat adalah menghilangkan rasa takut minoritas kulit putih. Namun Mandela terbukti mampu mengatasi soal ini karena integritas moral dan fokus perjuangannya untuk menyatukan satu negara dengan dua warna kulit yang berbeda itu. Mandela membuktikan kembali integritas kepemimpinannya dengan menolak untuk dipilih kembali pada pemilu 1999.

 

Istri

  1. Evelyn Ntoko Mase (1944-1957)
  2. Winnie Madikizela (1957-1996)
  3. Graca Machel-Mandela (1998-sekarang)

Pendidikan

  1. College of Fort Hare
  2. University of South Africa
  3. University of Witwatersrand, Johannesburg

Riwayat Singkat

  • Bergabung dengan Kongres Nasional Afrika yang anti-apartheid (1962-1990).
  • Dipenjara karena menganjurkan sabotase (1962-1990).
  • Menjadi Presiden ANC (1991).
  • Terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan (1994).
  • Mengakhiri masa jabatan sebagai Presiden Afrika Selatan (1999).

Penghargaan

Mendapat Hadiah Nobel Perdamaian bersama F.W. de Klerk untuk jasanya menghentikan sistem apartheid (1993).

Buku

Long Walk to Freedom (1994)

Lucky Luciano, CEO Dunia Kriminal

800px-Charles_Lucky_Luciano_(Excelsior_Hotel,_Rome)

Lucky Luciano (1948)

Nama

Charles “Lucky” Luciano (terlahir Salvatore Lucania)

Lahir

Lercarra Friddi, Sisilia, Italia, 11 November 1897

Meninggal

Napoli, Italia, 26 Januari 1962

 

Dialah tokoh yang telah mengubah dunia kejahatan terorganisasi AS menjadi demikian hebat dan “profesional”. Dari kawasan kumuh New York, anak Sisilia yang masa kecilnya penuh kekerasan ini mengubah gaya “dar der dor” gengster lama menjadi lebih “halus” tetapi berbahaya.

Nama aslinya Salvatore Lucania, orang Sisilia, Italia, yang ikut keluarganya berimigrasi ke New York, AS, saat dia berusia sembilan tahun. Kemudian lebih dikenal dengan nama Charles (“Lucky”) Luciano, bocah Italia ini segera terjun ke jalanan New York, antara lain menjadi pengantar narkoba. Luciano dikenal sebagai remaja kriminal yang sangar di Lower East Side ketika geng-nya bertikai dengan kelompok anak Yahudi kurus bernama Meyer Lansky. Luciano menaruh respek kepada anak Yahudi kurus itu, dan geng Yahudi dan Italia pun bergabung dalam sebuah persahabatan seumur hidup. Ketika Luciano membangun kembali organisasi mafia, Meyer Lansky adalah arsiteknya. Kebiasaan mereka berlaku kejam membuat mereka tumbuh kuat dalam profesi ini.

Ketika minuman keras dilarang pada 1920, Luciano dan Lansky menyuplai minuman keras ke kedai-kedai minuman gelap di Manhattan. Saat yang lain, dengan menggunakan kapal-kapal kecil untuk menjemput muatan di kapal besar, kelompok Luciano bisa menyandarkan kapal mereka di pelabuhan New York. Ketika anggota-anggota keluarga mafia terbesar di New York yang dipimpin oleh Giuseppe (“Joe the Boss”) Masseria terlibat perang Castellammarese pada akhir 1920an–perang perebutan kekuasaan berdarah dan panjang antara Masseria dan Salvatore Maranzano–Lucky menganggap perang ini mengacaukan “bisnis”. Dia kemudian melenyapkan Masseria dan mengakhiri kekerasan berkepanjangan. Lucky pun mulai dapat mengendalikan bisnis ketika Maranzano mengambil alih kekuasaan.

Visi Lucky untuk menggantikan metode tangan besi tradisional Sisilia dengan struktur korporat, sebuah dewan direktur dan infiltrasi sistematik dari perusahaan yang sah, tidak mengesankan bagi Maranzano. Maranzano menginginkan dirinya menjadi bos dari semua bos. Dia mulai agak khawatir dengan Lucky yang terlalu ambisius, berani, dan berbahaya. Namun Maranzano terlambat. Dia dibunuh oleh seorang polisi gadungan, pembunuh bayaran suruhan Lansky dan sahabatnya, Benjamin (“Bugsy”) Siegel.

Banyak sekali gesekan dalam upaya Luciano menumpas gengster Italia gaya lama. Memang gaya manajemen Luciano sangat jauh berbeda dengan rekannya di Chicago, Al Capone–yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk membunuh daripada berbisnis. FBI menggambarkan pengaruh Luciano yang besar dalam sejarah kejahatan terorganisasi. Luciano telah mengorganisasi kejahatan terorganisasi. Dia memodernisasi mafia, mengasahnya menjadi sindikat kejahatan nasional yang berjalan mulus. Sindikat ini dioperasikan oleh sekitar dua puluhan bos keluarga yang mengendalikan penyelundupan, nalo, narkotik, prostitusi, pekerja pelabuhan, serikat buruh, kedai makanan, roti dan perdagangan garmen. Pengaruh dan belalainya terus meluas, menyusupi dan merusak bisnis yang sah, politik, dan penegakan hukum.

Luciano juga memulai gaya gengster yang keren. Dia hidup nyaman di sebuah suite di Waldrof Astoria. Dia berpenampilan eksekutif dengan pakaian mahal yang elegan, kemeja sutra, dan sepatu buatan tangan. Di sekitarnya ada wanita-wanita cantik, gadis pertunjukan atau penyanyi klub malam. Dia juga berteman dengan Frank Sinatra dan aktor George Raft.

Hidup nyaman ini berakhir pada 1935 ketika jaksa khusus Kota New York melakukan gebrakan. Dia mengincar Luciano, menyebutnya “kaisar kejahatan terorganisasi kota ini,” dan menyerangnya dengan pelbagai tuduhan prostitusi terorganisasi. Persidangannya sensasional dan pemberitaan tabloid menjadi liar. Lucky berapi-api menolak disebut mucikari. “Semua itu dakwaan ceroboh,” katanya. Beberapa anggota geng senior membelanya. “Tak ada yang mengatakan hal buruk mengenai Charlie,” kata salah seorang dari mereka. “Dia seorang gentleman.” Namun dengan begitu banyak dakwaan, Luciano dihukum puluhan tahun penjara pada Juni 1936.

Namun Perang Dunia II memberi kesempatan Lucky untuk mendapatkan kebebasannya. Setelah serangan Pearl Harbor, kapal-kapal Jerman di pantai AS terus-menerus menenggelamkan kapal-kapal dagang AS. Intelijen AS menduga mereka dibantu oleh mata-mata atau simpatisan Nazi. Lalu sebuah kapal Perancis tenggelam di Sungai Hudson, meninggalkan dugaan kuat akan adanya sabotase. Agen-agen intelijen masuk ke dunia bawah tanah untuk mencari bantuan. Meyer Lansky menjadi penghubung dan diizinkan mengunjungi Luciano. Lucky bersedia bekerjasama, dan para pekerja dok, pemancing, dan penjahat yang tadinya diam menjadi mata dan telinga bagi intelijen AL. Segera saja delapan mata-mata Jerman bisa ditangkap, dan pelbagai bahan peledak, peta, dan cetak biru sabotase dibongkar.

Lucky juga berperan membantu intelijen ketika Sekutu menyerang Italia. Hasil perundingan dengan pengacara Lucky adalah kesepakatan untuk mendeportasinya sebagai balas jasa. Dia pun dipulangkan ke Italia pada Februari 1946. Namun beberapa bulan kemudian dia sudah muncul lagi di Kuba. Kunjungan Lansky, Sinatra, dan teman-teman lainnya sedemikian mencolok sehingga pers memberitakannya. Pada Februari 1947, Biro Narkotik AS mengetahui kemunculan kembali Lucky di AS. Pihak berwenang menyatakan bahwa dia berencana menjadikan Kuba sebagai pusat operasi penyelundupan obat-obatan sedunia. Dia sekali lagi diusir ke Italia.

Lucky meninggal di Italia pada 26 Januari 1962. Tidak seperti para pendahulu dan koleganya yang meninggal di ujung pistol, dia meninggal karena serangan jantung ketika akan menemui seorang dari Hollywood di Bandara Napoli. Para pejabat resmi Italia dan AS segera mengumumkan bahwa mereka hampir menangkapnya dalam kaitan dengan perkara heroin senilai 150 juta dolar AS.

Akio Morita, Pendiri Sony

The irrepressible co-founder of Sony built the company into a global power by combining clever products, innovative design, and potent brand marketing. A stroke disabled Morita in 1993. His duties shifted to Norio Ohga, and then to Nobuyuki Idei, whose tenure is better remembered for failed restructurings than brilliant product launches. Morita might not have done any better. He barely had a chance to glimpse the wave of globalization that ultimately crushed Idei. Once rivals such as Samsung, Nokia, and Microsoft hit their stride in the consumer electronics markets where Sony shined, even Morita's energy and talent might not have been enough to assure clear sailing.

Akio Morita, salah seorang pendiri Sony

 

Lahir

Nagoya, Aichi, Jepang, 26 Januari 1921

Meninggal

Tokyo, Jepang, 3 Oktober 1999 (umur 78 tahun)

Kebangsaan

Jepang

 

Sony identik dengan produk elektronik terkemuka. Produknya yang inovatif dan berkualitas terus membanjiri pasar dunia. Akio Morita dan Masaru Ibuka, para pendiri Sony, membuat Sony menjadi sebuah perusahaan global di tengah dunia yang kehilangan sempadan.

Akio Morita adalah seorang energik dan gemar berolahraga. Pada usia 72 tahun dia masih bermain tenis sekali setiap minggu. Dia bahkan masih mampun menantang siapa saja untuk bermain tenis, termasuk para atlet. Energi Morita bukan hanya dalam soal fisik. Ia juga punya visi yang jauh. Sudah lama dia mengamati bahwa dunia yang semakin “menyempit” akan melahirkan peluang-peluang besar bagi perusahaan yang mampu berpikir melampaui batas fisik dan psikologis. Dia lantas menerapkan strategi itu dengan cara mengoptimalkan merek Sony yang kuat untuk menembus pasar, khususnya AS. Sebagai hasil, misalnya, Sony menurut survei pada 2000 adalah merek nomor satu di mata para konsumen Amerika, di atas Coca Cola dan General Electric.

Energi Morita yang luar biasa dapat dilihat dari jadwalnya selama masa dua bulan sebelum dia terkena stroke. Dia bepergian dari markasnya di Tokyo ke New Jersey, Washington, Chicago, San Francisco, Los Angeles, San Antonio, Dallas, Inggris, Barcelona, dan Paris. Dia bertemu dengan Ratu Elizabeth II, bos General Electric Jack Welch, tokoh Perancis Jacques Chirac, para politisi, dan rekan-rekan birokrat dan mitra bisnis. Dia mengunjungi dua konser dan menonton sebuah film; melakukan emapt kali perjalanan di Jepang; muncul di delapan undangan resepsi; main sembilan putaran golf; menjadi tamu kehormatan dalam suatu pesta perkawinan; dan bekerja seperti biasa selama 17 hari di kantor pusat Sony. Sedemikian padatnya, jadwal Morita bahkan telah ditetapkan sejak setahun sebelumnya. Berbeda dengan banyak eksekutif yang lain, Morita selalu ada di tengah-tengah gelanggang bisnis.

Akio Morita memang berasal dari keluarga bisnis. Ia telah dipersiapkan menjadi ahli waris sebuah keluarga bisnis yang telah berpengalaman 14 generasi: sebuah perusahaan pembuat sake ternama di Nagoya. Namun dengan semangat wirausaha tulen, Morita meninggalkan kehidupan nyaman dan hak-hak istimewa untuk melakukan sebuah langkah awal yang tidak pasti. Ia mendirikan Tokyo Telecommunications Engineering, Inc., saat Jepang baru saja bangkit dari puing-puing peperangan.

Konsep pemasaran Morita bertumpu pada identifikasi merek: nama atau merek dengan seketika akan mengkomunikasikan produk berkualitas. Konsep pemasaran semacam ini digunakan secara luas oleh perusahaan-perusahaan masa kini. Tetapi pada masa itu sebagian besar perusahaan di Jepang masih menghasilkan produk dengan merek orang lain. Pentax, contohnya membuat produk untuk Honeywell, Ricoh untuk Savin, dan Sanyo untuk Sears.

Pelengkap visi Morita dalam hal identitas merek adalah bakat yang dimiliki kawannya sesama pendiri, Masaru Ibuka, yang bertumpu pada kekuatan rekayasa dan desain produk Sony. Kombinasi ini terbukti berjalan dengan baik. Keduanya selalu berusaha menemukan teknologi dan menghasilkan kualitas terbaik bagi konsumen. Salah satu produk pertama Sony adalah radio transistor, diproduksi pada 1955. Meskipun transistor dikembangkan oleh Bell Labs dan dibuat oleh Western Electric, Sony-lah yang pertama kali menggunakannya untuk sebuah radio saku kecil pada 1957.

Sukses radio transistor mengantar Sony pada produk-produk transistor yang lain, seperti teve 8 inci dan perekam pita video. Pencapaian teknologi Sony dalam desain produk, produksi, dan pemasaran telah berperan mengubah citra “Made in Japan” dari barang-barang imitasi murahan menjadi barang-barang berkualitas tinggi. Menurut Morita sendiri, mereka membuat Sony sebagai “Cadillac barang-barang elektronik”.

Penciptaan nama Sony memperlihatkan intuisi dan determinasi Morita untuk berkomunikasi secara global. Dia menginginkan sebuah nama yang dikenali di mana pun: kreatif, beraksara Roman, pendek dan menarik. Morita dan Ibuka membolak-balik kamus dan menemukan kata sonus, yang dalam bahasa Latin berarti suara. Kata sonny sendiri telah menjadi bahasa populer di Amerika pada waktu itu. Maka muncullah nama Sony.

Globalisasi Sony dimulai di AS. Morita memindahkan seluruh keluarganya pada 1963 untuk mengenal Amerika: pasar, kebiasaan, dan aturan-aturannya, agar peluang sukses perusahannya lebih besar. Keputusan itu memang brilian. Di AS Morita tinggal di sebuah apartemen besar di Fifth Avenue, Manhattan. Dia membangun jaringan solid dan bernilai dengan cara sosialisasi secara kontinyu dan melakukan pesta setiap minggu, kebiasannya yang tetap dipertahankannya sepanjang karirnya.

Morita dikenal sebagai seorang yang gila kerja dan juga “manusia bermain”. Dia mengikuti perkembangan seni dan musik, serta fanatik berolahraga. Pada 1960an dia menekuni selancar angin dan menyelam, juga main ski agar tetap bisa berolahraga pada musim dingin. Dia senang berski air dan bahkan menciptakan sebuah mikrofon tahan air yang dihubungkan dengan kabel ke kapal sehingga dia bisa memberi instruksi kepada istrinya, Yoshiko. Dia sangat bangga dengan penemuan ini. Hanya karena dia memiliki waktu-waktu yang menyenangkan, dia bisa menemukan dan menyempurnakan produk-produknya.

Walkman adalah sebuah penemuan Sony yang lain. Morita memperhatikan anak-anak dan teman-temannya yang mendengarkan musik dari pagi sampai malam. Dia menyaksikan orang menyetel musik dalam mobil dan membawa stereo besar ke pantai dan taman. Departemen Rekayasa Sony sebelumnya telah menolak konsep tape player tanpa fungsi perekam, tetapi Morita tak bisa ditolak. Dia memaksakan sebuah produk yang mirip tape mobil berkualitas tinggi, mudah dibawa, dan memungkinkan penggunanya untuk mendengarkan sambil mengerjakan sesuatu–itulah yang disebut Walkman.

Sony Amerika mengubah nama produk ini menjadi Soundabout untuk AS, Freestyle untuk Swedia, dan Stowaway untuk Inggris. Morita sangsi untuk menggunakan nama berbeda untuk setiap negara, dan ketika penjualannya tidak sesuai harapan, dia mengganti namanya menjadi Sony Walkman. Setelah itu Walkman menjadi mendunia dan kini tampil dalam kamus berbagai bahasa.

Ternyata, orang yang telah membuat Sony menjadi global ini memiliki sisi nasionalis yang kadang-kadang bertentangan atau melengkapi. Itu misalnya dapat dirasakan kalu kita membaca buku larisnya Made in Japan. Tetapi Morita juga mengadopsi lebih banyak titik pandang internasional, dan pada 1960an mulai membicarakan isu mengenai usaha untuk meningkatkan perdagangan bebas dengan menurunkan tarif dan meretas pelbagai hambatan lain. Selama berpuluh-puluh tahun para pengusaha Jepang enggan membicarakan isu ini. Morita secara vokal mewakili komunitas bisnis Jepang, sebuah negara yang pada 1970an telah menjadi negara nomor dua di dunia dalam soal ekonomi dan tak mungkin bisa dikesampingkan oleh para pelaku ekonomi yang lain.

Robert Peary, Sang Penakluk Kutub Utara

429px-Robert_Edwin_Peary

Rear Admiral Robert Peary

Dia penjelajah berkebangsaan AS yang dihargai karena jasanya memimpin sekelompok orang untuk mencapai Kutub Utara. Berkali-kali mencoba, baru berhasil pada 1909 dia berhasil mencapai Kutub Utara. Meskipun posisi rombongan Peary ketika itu masih diperdebatkan, namun perjalanannya termasuk salah satu yang terhebat dalam sejarah.

Nama

Rear Admiral Robert Peary

Lahir

Cresson, Pennsylvania, 6 Mei 1856

Wafat

Washington DC, 20 Februari 1920 (usia 63 tahun)

Kewarganegaraan

Amerika Serikat

Istri

Josephine Diebitsch Peary

Keturunan

  • Marie Ahnighito Peary
  • Rbert Edwin Peary, Jr.

 

Peary lahir di Cresson, Pennsylvania, dan dididik di Bowdon College. Pada 1881 dia menjadi insinyur sipil di Angkatan Laut AS. Berkaitan dengan pekerjaan inilah dia ikut serta dalam Survei Kanal Nikaragua pada 1884 dan 1885 dan eksplorasi Greenland pada 1886. Dalam eksplorasi pertama–dari tujuh eksplorasinya–ke kutub, Peary menemukan dan menamai Independence Bay di pantai timur laut Greenland pada 4 Juli 1892, setelah menyeberangi puncak pulau itu (jaraknya sekitar 800 km) untuk pertama kalinya.

Pada 1895 dia mencapai wilayah pantai paling utara yang kini dikenal sebagai Peary Land. Pada 1900 Peary mencapai titik paling utara Greenland (dan titik paling utara daratan di dunia), yang dia namai Tanjung Morris Jessup sebagai penghormatan terhadap salah satu kepala penyokongnya, pimpinan American Museum of Natural History. Peary membuktikan bahwa Greenland lebih pantas disebut pulau daripada benua dan bahwa puncak es Greenland tidak lebih jauh dari garis lintang 82°. Dia juga memberi sumbangan kepada dunia ilmu mengenai etnologi Inult (Eskimo) dan pembentukan sungai es. Dia mengadopsi keterampilan survival Eskimo dan membangun tempat penempatan terakhir depot suplai dan menyusun apa yang disebut Sistem Peary untuk Perjalanan Kutub Utara.

Antara 1898 dan 1902 Peary sibuk dalam survei pantai utara Greenland. Pada 1902 serta 1905 dan 1906 (kali ini dia memulai dari Pulau Ellesmere) dia melakukan upaya yang gagal untuk mencapai Kutub Utara, pada perjalanan terakhir hanya bisa mencapai 280 km dari tujuan.

Pada 17 Juli 1908, Peary memimpin ekspedisi lain ke Kutub Utara, dan pada 6 April 1909 dia dan sekelompok kecil orang termasuk asistennya, Matthew A. Henson, dan empat orang Eskimo kurang lebih mencapai kutub atau tiba sangat dekat dengan kutub. Pada 16 September 1909 saat dia mengumumkan keberhasilannya Peary mengetahui bahwa penemuan Kutub Utara telah diklaim 5 hari lebih awal oleh penjelajah dan ahli bedah AS Frederick Albert Cook. Penelitian oleh para ahli membuktikan bahwa klaim dokter itu salah, rekor Peary diterima sebagai yang sah.

Pada 1911, tahun Peary pensiun, Kongres AS menyatakan bahwa penemuannya tidak terbantahkan dan dia diberi pangkat admiral sebelum masa pensiunnya. Namun demikian, komunitas ilmiah masih memperdebatkan apakah Peary benar-benar mencapai lokasi tepat Kutub Utara. Kekurangan utama dalam kasus ini: Peary mengirim pulang Robert Abram Bartlett, satu-satunya anggota ekspedisi yang bisa mengecek perhitungan garis lintangnya ketika kelompok itu mencapai 87°47’. Asisten Peary, Henson, memang mengetahui cara membaca sekstan tetapi tidak mengetahui cara melakukan perhitungan yang dibutuhkan. Lagi pula kecepatan rata-rata harus dilipatgandakan dari kecepatan sebelumnya agar jarak yang tersisa cocok dengan waktu yang dinyatakan. Peary pun tidak menyatakan telah mencapai Kutub Utara kepada anggota kelompok yang lain sampai dia kembali ke kamp dan mengetahui klaim Cook.

Meskipun mengundang kontroversi, tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan ini adalah salah satu pencapaian yang terhebat dalam sejarah penjelajahan Kutub Utara, karena hampir semua ekspedisi berikutnya tidak bisa mencapai Kutub Utara.

Pengalaman dan pengetahuan Peary dalam menjelajahi Kutub Utara, dituliskan oleh Peary antara lain dalam buku The North Pole (1910) dan Secrets of Polar Travel (1917).

Putri Amara, Pemenang Lomba Resensi Novel 2012 oleh Dharma Wanita Kota Metro

NEPATRONews.com, SMP Negeri 4 Metro: Putri Amara berhasil memenangkan peringkat kedua dalam Lomba Resensi Buku. Kompetisi yang diadakan oleh Dharma Wanita Kota Metro itu untuk memperingati hari ulang tahun Dharma Wanita Kota Metro ke-13.

Puncak perayaan ulang tahun Dharma Wanita Kota Metro ke-13 tersebut diadakan di aula SMP Negeri 1 Metro pada Kamis (13/12) dengan dihadiri oleh Asisten II Pemkot Metro Megawati Karim yang mewakili walikota Metro, Penasihat DWP Kota Metro Ny. Netti Lukman, Ketua GOW Kota Metro Ny. Erniar Saleh, segenap Fokorpimda dan seluruh anggota Dharma Wanita se-Kota Metro.

Dalam acara tersebut juga diumumkan hasil lomba resensi buku. Putri Amara meraih Juara II. “Alhamdulillah, seneng jadi juara,” ujar Putri Amara yang juga Sekretaris Kelas 9A rezim Rifaldi Lutfi Fahmi. Ya, dia memang dikenal sebagai penulis yang baik.